Translate This Blog

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Agama Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Juli 2012

Canggih! Sajadah ini dapat Menyala saat Menghadap Kiblat

Alas untuk shalat alias sajadah, yang biasa digunakan oleh sebagian besar dari 1,6 miliar umat Islam di dunia, kini hadir dengan lebih modern.

Seorang desainer Inggris, Soner Ozenc menyuntikkan inovasi baru ke dalam sajadah yang ia buat dengan menciptakan sajadah yang bisa menyala terang, yang akan menyala ketika menghadapi kiblat di Makkah, surat kabar Mashable melaporkan.

EL Sajjadah - yang "EL" adalah singkatan dari Electro Luminescent dan sajjadah, bahasa Arab untuk sajadah, menggabungkan kompas digital yang membantu menerangi dalam mencari araha Makkah.

"Saya ingin merancang sesuatu yang baru, tapi saya datang ke titik di mana saya perlu menambahkan fungsi untuk proyek ini," kata Ozenc kepada Mashable.

"Kemudian saya datang dengan ide sajadah bercahaya."

EL Sajaddah tidak hanya fungsional, tetapi berseni, karena bisa digantung di dinding rumah pemiliknya. Desain karpet ini didasarkan pada seni vektor kontemporer, dengan terinspirasi oleh Masjid Biru di Turki. Dasarnya adalah hitam - bermotif berwarna hijau - dan bisa memancarkan cahaya.

Sajadah unik ini telah dipamerkan di Turki, Kuwait, Australia, Inggris, Korea Selatan, dan Jepang. Museum of Modern Art di New York memamerkan EL Sajjadah tahun lalu sebagai bagian dari pameran berjudul “Talk to Me: Design and the Communication Between People and Objects.”

Ozenc, yang memulai proyeknya enam tahun lalu, belum menerima kritik negatif terkait konsepnya mengenai penggunaan teknologi dealam praktik keagamaan tradisional.(int)

Sumber : http://acehnationalpost.com/teknologi/956-canggih-sajadah-ini-dapat-menyala-saat-menghadap-kiblat.html?fb_comment_id=fbc_10151268656372519_27491892_10151269799292519#f3f9182f235acac

Canggih! Sajadah ini dapat Menyala saat Menghadap Kiblat

Alas untuk shalat alias sajadah, yang biasa digunakan oleh sebagian besar dari 1,6 miliar umat Islam di dunia, kini hadir dengan lebih modern.

Seorang desainer Inggris, Soner Ozenc menyuntikkan inovasi baru ke dalam sajadah yang ia buat dengan menciptakan sajadah yang bisa menyala terang, yang akan menyala ketika menghadapi kiblat di Makkah, surat kabar Mashable melaporkan.

EL Sajjadah - yang "EL" adalah singkatan dari Electro Luminescent dan sajjadah, bahasa Arab untuk sajadah, menggabungkan kompas digital yang membantu menerangi dalam mencari araha Makkah.

"Saya ingin merancang sesuatu yang baru, tapi saya datang ke titik di mana saya perlu menambahkan fungsi untuk proyek ini," kata Ozenc kepada Mashable.

"Kemudian saya datang dengan ide sajadah bercahaya."

EL Sajaddah tidak hanya fungsional, tetapi berseni, karena bisa digantung di dinding rumah pemiliknya. Desain karpet ini didasarkan pada seni vektor kontemporer, dengan terinspirasi oleh Masjid Biru di Turki. Dasarnya adalah hitam - bermotif berwarna hijau - dan bisa memancarkan cahaya.

Sajadah unik ini telah dipamerkan di Turki, Kuwait, Australia, Inggris, Korea Selatan, dan Jepang. Museum of Modern Art di New York memamerkan EL Sajjadah tahun lalu sebagai bagian dari pameran berjudul “Talk to Me: Design and the Communication Between People and Objects.”

Ozenc, yang memulai proyeknya enam tahun lalu, belum menerima kritik negatif terkait konsepnya mengenai penggunaan teknologi dealam praktik keagamaan tradisional.(int)

Sumber : http://acehnationalpost.com/teknologi/956-canggih-sajadah-ini-dapat-menyala-saat-menghadap-kiblat.html?fb_comment_id=fbc_10151268656372519_27491892_10151269799292519#f3f9182f235acac

BAITUL ASYI PUSAKA NENEK MOYANG KITA ACEH DI ARAB SAUDI ,SUHATO INGIN MEREBUT TAPI ALLAH TELAH MENJAGA SAMPAI KE HARI INI

clip_image001Saya ingin kembali menggugah perhatian kita terhadap Baitul Asyi. Sebagaimana diberitakan Serambi Indonesia, baru-baru ini, 2.600 jemaah calon haji (JCH) asal Aceh di Mekkah, menerima pembagian uang kompensasi pengelolaan Baitul Asyi .
Tahun ini, dana Baitul Asyi yang disalurkan untuk para jemaah haji (JCH) asal Aceh sebesar 4.959.600 riyal atau Rp 14.878.800.000 kepada 4.133 jemaah (Serambi Indonesia, 29 Oktober 2010), Pemberian uang kompensasi ini dari pengelola Baitul Asyi (Rumah Aceh) di Mekkah, terus menjadi perbincangan para jemaah haji Nusantara .
clip_image004Pada masa pemerintahan rezim Soeharto di tahun 1980an, pernah meminta Prof DR Ismail Suny, Duta Besar Republik Indonesia di Saudi Arabia yang juga orang Aceh untuk mengurus aset Baitul Asyi, yang sekarang berjumlah Rp 5.7 triliun. Tujuannya, agar Baitul Asyi dialihkan menjadi milik pemerintah Republik Indonesia dan dimanfaatkan untuk kepentingan jemaah haji Indonesia .
clip_image002Tetapi pengelola Baitul Asyi, saat itu, Syeikh Muhammad Shaleh Asyi dan pemerintah Saudi Arabia, menjelaskan bahwa wakaf tidak boleh dipindah milikkan dan dialihkan selain dari yang telah dicantumkan oleh pewakaf. Menurut sejarah, Habib Bugak Asyi (Habib Abdurrahman Al-Habsyi) yang hidup pada masa kerajaan Islam Aceh Darussalam telah mewakafkan berupa rumah pemondokan di Qasasiah, ke hadapan Hakim Mahkamah Syariyah Mekkah pada 18 Rabiul Akhir tahun 1224 H. Tujuannya adalah sebagai tempat pemondokan warga negara Aceh yang menunaikan ibadah haji ke Mekkah atau pemondokan bagi siswa siswi Aceh yang belajar di Mekkah. Disamping itu, harta agama ini juga diniatkan untuk tempat tinggal bagi warga negara Aceh yang bermukim di Mekkah.
clip_image006Sekiranya karena sesuatu sebab tidak ada lagi orang Aceh yang datang ke Mekkah baik untuk naik haji, belajar dan atau bermukim disana, maka rumah wakaf ini dapat dimanfaatkan untuk siswa siswi yang berasal dari seluruh nusantara (Jawi) setingkat dengan ASEAN sekarang. Jika tidak ada lagi Jawi, wakaf ini diserahkan kepada Imam Masjid Haram untuk membiayai kebutuhan Masjidil Haram.
Nadhir pertama Baital Asyi ini adalah Syeikh Abdullah Baid Asyi, pengarang kitab Jarrah. Sekarang pengurus Baital Asyi Syekh Munir Abdul Ghani Mahmud Asyi yang dibantu oleh Syekh Khalid bin Abdurrahim bin Abdul Wahab Asyi dan diawasi oleh Kementerian Haji dan Wakaf Saudi Arabia, dengan menempatkan Syekh Dr. Abdul Lathif Balthu sebagai pengawas agar pengelolaan baitul asyi sesuai dengan ikrar wakaf yang dilakukan oleh Habib Bugak Asyi 18 Rabiul Akhir tahun 1224 H pada masa kerajaan Aceh Darussalam.

clip_image008Pada musim 2010 ini, nadhir Baitul Asyi akan meletakkan batu pertama pembangunan pemondokan asrama haji Aceh diharapkan hadir Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar yang juga akan melaksanakan ibadah haji kali ini, Pembangunan pondok ini direncanakan selesai pada tahun 2014. Target yang hendak dicapai adalah agar asrama ini dapat menampung 5.000 jamaah haji asal Aceh. Sehingga kedepan jemaah haji yang berasal dari Aceh tidak perlu lagi menyewa pemondokan selama melaksanakan ibadah haji. Lagi-lagi, pelaksanaan proyek ini sesuai dengan ikrar wakaf Habib Abdurahman Al Habsyi Al Asyi pada tahun 1224 H.
Sebenarnya harta wakaf Aceh di Saudi bukan hanya diwakafkan oleh Habib Abdurahman Al Habsyi Al Asyi (Habib Bugak Asyi). Dari beberapa hasil penelusuran penulis, ada 19 persil lagi perlu ditelusuri keberadaannya sekarang, yang telah terkena perluasan Mesjidil Haram maupun pembangunan fasilitas haji di Mina. Karena walau bagaimanapun Saudi Arabia yang memberlakukan syariat Islam sangat menjaga keberadaan tanah wakaf sebagai warisan peradaban Islam. Di antara tanah wakaf tersebut adalah wakaf Syekh Muhammad Saleh Asyi dan isterinya Syaikhah Asiah (sertifikat no 324) di Qassasyiah; wakaf Sulaiman bin Abdullah Asyi di Suqullail (Pasar Seng); wakaf Muhammad Abid Asyi; wakaf Abdul Aziz bin Marzuki Asyi; wakaf Datuk Muhammad Abid Panyang Asyi di Mina, Wakaf Aceh di jalan Suq Al Arab di Mina, Wakaf Muhammad Saleh Asyi di Jumrah ula di Mina, Rumah Wakaf di kawasan Baladi di Jeddah, Rumah Wakaf di Taif, Rumah Wakaf di kawasan Hayyi al Hijrah Mekkah, Rumah Wakaf di kawasan Hayyi Al Raudhah, Mekkah, Rumah Wakaf di kawasan Al-Aziziyah, Mekkah, wakaf Aceh di Suqullail, Zugag Al Jabal, dikawasan Gazzah, yang belum diketahui pewakafnya, wakaf Syekh Abdurrahim bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk Syik di Awe Geutah) di Syamiah Mekkah dan Syekh Abdussalam bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk di Meurah) di Syamiah, Abdurrahim bin Abdullah bin Muhammad Asyi di Syamiah dan Khadijah binti Muhammad bin Abdullah Asyi di Syamiah.
Saya melihat peristiwa pembagian harta wakaf di Arab Saudi memberikan pelajaran yang cukup penting bagi rakyat Aceh. Pertama, para endatu kita selalu memikirkan masa depan, ketimbang kepentingan mereka saat itu. Hal ini berbeda dengan para endatu sekarang yang hanya berpikir “tiga jengkal di atas perut.” Untuk memuaskan sejengkal di bawah pusar. Kejelasan dan kecermelangan cara berpikir itu tampaknya yang sulit dijumpai saat ini. Sehingga warisan endatu sekarang cenderung meninggalkan masalah, ketimbang menyelesaikan masalah. Sosok Habib Bugak dan para pewakaf lainnya adalah ciri endatu yang berpikir tentang bangsa Aceh. Mereka sengaja meletakkan kata bilad untuk Aceh yang mengambarkan Aceh sebagai sebuah nanggroe.
Kedua, jika di luar negeri, aset wakaf orang Aceh dijaga dengan baik, maka di Aceh sebaliknya. Tanah wakaf di Aceh sampai saat ini belum diatur sedemikian rupa oleh pemerintah Aceh. Kasus tanah wakaf Blang Padang milik mesjid Raya Baiturrahman misalnya, sampai saat ini belum mendapat kejelasan. Walaupun pemerintah kolonial Belanda yang nota bene penjajah tetapi tetap menghormati umeng meusara (tanah wakaf) mesjid Raya tersebut (Van Langen, 1889), malah saat ini tanah wakaf Blang Padang ini menjadi rebutan antara pemerintah Aceh dengan Kodam Iskandar Muda. Selain itu, dan banyak tanah tanah wakaf lain di Aceh saat ini, terkadang menjadi sumber sengketa.
Ketiga, endatu dulu berpikir bagaimana mendapat “beureukat” dari amal yang dilakukan, sementara sekarang orang lebih suka “meukat” dalam segala hal untuk persoalan “tiga jengkal.”
Keempat, sejatinya para hujaj di Aceh juga tidak hanya belajar menikmati uang dari hasil tanah wakaf baitul asyi tersebut. Tetapi juga memikirkan bagaimana belajar melakukan wakaf. Sampai saat ini, belum terdengar adanya para haji yang berani melakukan amal seperti para endatu di atas. Padahal jika tradisi wakaf di Aceh dibangkitkan kembali, maka beberapa persoalan umat akan bisa di atasi, khususnya dalam bidang sosial keagamaan. Jangan ada di dalam benak kita yang belum berhaji ke Mekkah untuk beradham ingin mendapatkan dana wakaf ini ketika sedang berhaji. Alangkah baiknya, jika dana tersebut diwakafkan kembali kepada fakir miskin di relung hati para hujaj dari Aceh.
Akhirnya, persoalan Baitul Asyi menyiratkan bahwa tradisi berwakaf merupakan bagian dari peradaban Islam Aceh. Warisan ini perlu dicontoh dan bahkan direvitalisasi dalam kehidupan beragama saat ini. Walaupun kita tidak akan pernah menjadi pewakaf sekaliber Habib Bugak, namun jika tradisi berwakaf ini disosialisasikan, maka akan banyak beureukat daripada meukat tanah di Aceh. Karena itu, saya ingin mengajak untuk merenung bagaimana mengembangkan kembali tradisi berwakaf di Aceh. Paling tidak, anak cucu kita akan menikmati hasilnya dari harta agama ini.

BAITUL ASYI PUSAKA NENEK MOYANG KITA ACEH DI ARAB SAUDI ,SUHATO INGIN MEREBUT TAPI ALLAH TELAH MENJAGA SAMPAI KE HARI INI

clip_image001Saya ingin kembali menggugah perhatian kita terhadap Baitul Asyi. Sebagaimana diberitakan Serambi Indonesia, baru-baru ini, 2.600 jemaah calon haji (JCH) asal Aceh di Mekkah, menerima pembagian uang kompensasi pengelolaan Baitul Asyi .
Tahun ini, dana Baitul Asyi yang disalurkan untuk para jemaah haji (JCH) asal Aceh sebesar 4.959.600 riyal atau Rp 14.878.800.000 kepada 4.133 jemaah (Serambi Indonesia, 29 Oktober 2010), Pemberian uang kompensasi ini dari pengelola Baitul Asyi (Rumah Aceh) di Mekkah, terus menjadi perbincangan para jemaah haji Nusantara .
clip_image004Pada masa pemerintahan rezim Soeharto di tahun 1980an, pernah meminta Prof DR Ismail Suny, Duta Besar Republik Indonesia di Saudi Arabia yang juga orang Aceh untuk mengurus aset Baitul Asyi, yang sekarang berjumlah Rp 5.7 triliun. Tujuannya, agar Baitul Asyi dialihkan menjadi milik pemerintah Republik Indonesia dan dimanfaatkan untuk kepentingan jemaah haji Indonesia .
clip_image002Tetapi pengelola Baitul Asyi, saat itu, Syeikh Muhammad Shaleh Asyi dan pemerintah Saudi Arabia, menjelaskan bahwa wakaf tidak boleh dipindah milikkan dan dialihkan selain dari yang telah dicantumkan oleh pewakaf. Menurut sejarah, Habib Bugak Asyi (Habib Abdurrahman Al-Habsyi) yang hidup pada masa kerajaan Islam Aceh Darussalam telah mewakafkan berupa rumah pemondokan di Qasasiah, ke hadapan Hakim Mahkamah Syariyah Mekkah pada 18 Rabiul Akhir tahun 1224 H. Tujuannya adalah sebagai tempat pemondokan warga negara Aceh yang menunaikan ibadah haji ke Mekkah atau pemondokan bagi siswa siswi Aceh yang belajar di Mekkah. Disamping itu, harta agama ini juga diniatkan untuk tempat tinggal bagi warga negara Aceh yang bermukim di Mekkah.
clip_image006Sekiranya karena sesuatu sebab tidak ada lagi orang Aceh yang datang ke Mekkah baik untuk naik haji, belajar dan atau bermukim disana, maka rumah wakaf ini dapat dimanfaatkan untuk siswa siswi yang berasal dari seluruh nusantara (Jawi) setingkat dengan ASEAN sekarang. Jika tidak ada lagi Jawi, wakaf ini diserahkan kepada Imam Masjid Haram untuk membiayai kebutuhan Masjidil Haram.
Nadhir pertama Baital Asyi ini adalah Syeikh Abdullah Baid Asyi, pengarang kitab Jarrah. Sekarang pengurus Baital Asyi Syekh Munir Abdul Ghani Mahmud Asyi yang dibantu oleh Syekh Khalid bin Abdurrahim bin Abdul Wahab Asyi dan diawasi oleh Kementerian Haji dan Wakaf Saudi Arabia, dengan menempatkan Syekh Dr. Abdul Lathif Balthu sebagai pengawas agar pengelolaan baitul asyi sesuai dengan ikrar wakaf yang dilakukan oleh Habib Bugak Asyi 18 Rabiul Akhir tahun 1224 H pada masa kerajaan Aceh Darussalam.

clip_image008Pada musim 2010 ini, nadhir Baitul Asyi akan meletakkan batu pertama pembangunan pemondokan asrama haji Aceh diharapkan hadir Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar yang juga akan melaksanakan ibadah haji kali ini, Pembangunan pondok ini direncanakan selesai pada tahun 2014. Target yang hendak dicapai adalah agar asrama ini dapat menampung 5.000 jamaah haji asal Aceh. Sehingga kedepan jemaah haji yang berasal dari Aceh tidak perlu lagi menyewa pemondokan selama melaksanakan ibadah haji. Lagi-lagi, pelaksanaan proyek ini sesuai dengan ikrar wakaf Habib Abdurahman Al Habsyi Al Asyi pada tahun 1224 H.
Sebenarnya harta wakaf Aceh di Saudi bukan hanya diwakafkan oleh Habib Abdurahman Al Habsyi Al Asyi (Habib Bugak Asyi). Dari beberapa hasil penelusuran penulis, ada 19 persil lagi perlu ditelusuri keberadaannya sekarang, yang telah terkena perluasan Mesjidil Haram maupun pembangunan fasilitas haji di Mina. Karena walau bagaimanapun Saudi Arabia yang memberlakukan syariat Islam sangat menjaga keberadaan tanah wakaf sebagai warisan peradaban Islam. Di antara tanah wakaf tersebut adalah wakaf Syekh Muhammad Saleh Asyi dan isterinya Syaikhah Asiah (sertifikat no 324) di Qassasyiah; wakaf Sulaiman bin Abdullah Asyi di Suqullail (Pasar Seng); wakaf Muhammad Abid Asyi; wakaf Abdul Aziz bin Marzuki Asyi; wakaf Datuk Muhammad Abid Panyang Asyi di Mina, Wakaf Aceh di jalan Suq Al Arab di Mina, Wakaf Muhammad Saleh Asyi di Jumrah ula di Mina, Rumah Wakaf di kawasan Baladi di Jeddah, Rumah Wakaf di Taif, Rumah Wakaf di kawasan Hayyi al Hijrah Mekkah, Rumah Wakaf di kawasan Hayyi Al Raudhah, Mekkah, Rumah Wakaf di kawasan Al-Aziziyah, Mekkah, wakaf Aceh di Suqullail, Zugag Al Jabal, dikawasan Gazzah, yang belum diketahui pewakafnya, wakaf Syekh Abdurrahim bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk Syik di Awe Geutah) di Syamiah Mekkah dan Syekh Abdussalam bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk di Meurah) di Syamiah, Abdurrahim bin Abdullah bin Muhammad Asyi di Syamiah dan Khadijah binti Muhammad bin Abdullah Asyi di Syamiah.
Saya melihat peristiwa pembagian harta wakaf di Arab Saudi memberikan pelajaran yang cukup penting bagi rakyat Aceh. Pertama, para endatu kita selalu memikirkan masa depan, ketimbang kepentingan mereka saat itu. Hal ini berbeda dengan para endatu sekarang yang hanya berpikir “tiga jengkal di atas perut.” Untuk memuaskan sejengkal di bawah pusar. Kejelasan dan kecermelangan cara berpikir itu tampaknya yang sulit dijumpai saat ini. Sehingga warisan endatu sekarang cenderung meninggalkan masalah, ketimbang menyelesaikan masalah. Sosok Habib Bugak dan para pewakaf lainnya adalah ciri endatu yang berpikir tentang bangsa Aceh. Mereka sengaja meletakkan kata bilad untuk Aceh yang mengambarkan Aceh sebagai sebuah nanggroe.
Kedua, jika di luar negeri, aset wakaf orang Aceh dijaga dengan baik, maka di Aceh sebaliknya. Tanah wakaf di Aceh sampai saat ini belum diatur sedemikian rupa oleh pemerintah Aceh. Kasus tanah wakaf Blang Padang milik mesjid Raya Baiturrahman misalnya, sampai saat ini belum mendapat kejelasan. Walaupun pemerintah kolonial Belanda yang nota bene penjajah tetapi tetap menghormati umeng meusara (tanah wakaf) mesjid Raya tersebut (Van Langen, 1889), malah saat ini tanah wakaf Blang Padang ini menjadi rebutan antara pemerintah Aceh dengan Kodam Iskandar Muda. Selain itu, dan banyak tanah tanah wakaf lain di Aceh saat ini, terkadang menjadi sumber sengketa.
Ketiga, endatu dulu berpikir bagaimana mendapat “beureukat” dari amal yang dilakukan, sementara sekarang orang lebih suka “meukat” dalam segala hal untuk persoalan “tiga jengkal.”
Keempat, sejatinya para hujaj di Aceh juga tidak hanya belajar menikmati uang dari hasil tanah wakaf baitul asyi tersebut. Tetapi juga memikirkan bagaimana belajar melakukan wakaf. Sampai saat ini, belum terdengar adanya para haji yang berani melakukan amal seperti para endatu di atas. Padahal jika tradisi wakaf di Aceh dibangkitkan kembali, maka beberapa persoalan umat akan bisa di atasi, khususnya dalam bidang sosial keagamaan. Jangan ada di dalam benak kita yang belum berhaji ke Mekkah untuk beradham ingin mendapatkan dana wakaf ini ketika sedang berhaji. Alangkah baiknya, jika dana tersebut diwakafkan kembali kepada fakir miskin di relung hati para hujaj dari Aceh.
Akhirnya, persoalan Baitul Asyi menyiratkan bahwa tradisi berwakaf merupakan bagian dari peradaban Islam Aceh. Warisan ini perlu dicontoh dan bahkan direvitalisasi dalam kehidupan beragama saat ini. Walaupun kita tidak akan pernah menjadi pewakaf sekaliber Habib Bugak, namun jika tradisi berwakaf ini disosialisasikan, maka akan banyak beureukat daripada meukat tanah di Aceh. Karena itu, saya ingin mengajak untuk merenung bagaimana mengembangkan kembali tradisi berwakaf di Aceh. Paling tidak, anak cucu kita akan menikmati hasilnya dari harta agama ini.

Senin, 02 Juli 2012

Nasa Mengeluarkan Kenyataan Matahari Akan Terbit Dari Barat

Sains astronomi ada menyebut bahawa kelajuan putaran planet Marikh sedang perlahan sedikit demi sedikit ke arah laluannya ke timur. Para saintis agensi angkasa lepas kebangsaan Amerika Syarikat (NASA) pula mendapati pergerakan planet itu terhenti ke arah laluan tersebut.

NASA kemudian mendapati planet Marikh telah menukar laluannya ke arah yang bertentangan, iaitu ke arah Barat, ini bermakna matahari akan terbit dari arah barat Marikh. Fenomena yang ganjil itu disebut sebagai “retrograde motion”.

Kebanyakan saintis Barat berpendapat bahawa semua planet akan melalui fenomena yang serupa dan ini termasuklah planet Bumi. Apabila ianya berlaku, maka matahari akan terbit dari Barat!

Subhanallah! Kekasih Allah Nabi Muhammad s.a.w. bersabda bahawa salah satu tanda besar yang hari kiamat akan tiba ialah apabila matahari terbit dari Barat.

Pihak NASA telahpun mendapati tanda-tanda matahari akan terbit dari Barat semasa ahli sains astronominya mengkaji pergerakan planet Marikh. Yang mereka tidak dapat pastikan ialah tempoh masa yang bakal diambil sehinggalah semua planet melalui fenomena yang serupa.

Dapatan sains oleh NASA itu semestinya memperkukuhkan lagi iman umat Islam akan tanda-tanda kiamat. Manusia tidak tahu bila ianya akan berlaku walaupun sudah ada banyak tanda-tandanya. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Keratan akhbar yang menyatakan bahawa NASA telah mengeluarkan kenyataan berkenaan isu ini

TEORI QURAN VS TEORI BARAT

Kalau di kaji dengan teliti, teori yang dijelaskan Al-Quran ini agak berbeza dari teori-teori barat. Yang pertama, Al-Quran menjelaskan bulan yang menyebabkan bumi bertukar arah. Al-Quran menunjukkan perkaitan yang erat dan rapat antara bumi dan bulan. Tetapi teori barat tidak ‘nampak’ pun peranan bulan dalam proses kejadian ini.

Yang ke-duanya, teori Al-Quran nampak lebih jelas dan mudah difahami, malah boleh dibuktikan melalui ujikaji makmal. Sedangkan teori barat tidak dapat diuji dalam makmal dan tidak menunjukkan keadaan matahari akan naik dari barat! Kalau berlaku perlanggaran yang teramat dahsyat (dengan komet yang besar), maka bumi akan hancur! Perlanggaran ‘kecil’ (seperti yang berlaku di Mexico) tidak akan dapat menukar putaran bumi. Lagi pun sekiranya komet melanggar bumi dari “arah yang salah” ianya mungkin akan menambah kelajuan pusingan yang ada sekarang misalkan dari 24 jam kepada 10 jam sahaja/hari. Sekiranya bumi berputar pada kelajuan ini, maka kelajuan objek yang berada pada permukaan equator (atau khatulistiwa) ialah kira-kira 4,000 km/sejam yang akan memusnahkan segala-galanya yang ada dipermukaan bumi seperti rumah, bangunan, tumbuhan, pohon kayu, dan manusia serta binatang-binatang akan berterbangan.

Lagi pun untuk membolehkan bumi perputar pada arah bertentangan, komet yang melanggar bumi mesti pergerak pada kelajuan lebih dari 2 kali kelajuan putaran bumi iaitu 3,300 km/jam (sekiranya saiz komet sama besar dengan saiz bumi), dan mesti melanggar bumi pada sudut dan lokasi yang tepat. Kalau ianya melanggar pada kutub utara, maka matahari tidak akan ‘terbit dari barat’.

Yang ke-tiga, teori Al-Quran adalah lebih tepat sebab tidak berlaku kerosakkan yang besar kepada makhluk di bumi. Sekiranya berlaku kemusnahan yang besar (misalnya bumi hancur), maka ini bermakna sudah “betul-betul kiamat” dan bukannya lagi “hampir kiamat”. Di dalam hadith di atas menjelaskan selepas matahari naik dari barat maka segala amalan dan taubat tidak diterima lagi, dan dajal akan turun ke bumi (ini menunjukkan manusia masih lagi hidup di bumi, dan berjalan seperti biasa).

Tambahan pula Al-Quran menyatakan (15:76) manusia akan melihat jalan-jalan tetap tegak, nampak seperti biasa tanpa sebarang kerosakan, dan masih boleh dilalui.

Ke-empat, penjelasan Al-Quran lebih menyeluruh dan dari teori barat. Ahli sains telah mendapati bahawa terdapat ‘2’ jenis permukaan bulan iaitu permukaan yang cerah (yang sentiasa mengadap bumi), dan permukaan gelap (yang sentiasa membelakangi bumi). Ke dua-dua permukaan ini mempunyai ciri-ciri yang berbeza yang amat ketara seperti warna, daya graviti, kandungan bahan-bahan, ketumpatan dan kemampatan, keradioaktifan, dan sebagainya. Oleh itu apabila bulan merekah ia akan merubah polar graviti, mengeluarkan tenaga elektromagnetik yang boleh menyebabkan daya graviti dan magnet bumi bertindak balas.

Sumber: Nizarazu

Nasa Mengeluarkan Kenyataan Matahari Akan Terbit Dari Barat

Sains astronomi ada menyebut bahawa kelajuan putaran planet Marikh sedang perlahan sedikit demi sedikit ke arah laluannya ke timur. Para saintis agensi angkasa lepas kebangsaan Amerika Syarikat (NASA) pula mendapati pergerakan planet itu terhenti ke arah laluan tersebut.

NASA kemudian mendapati planet Marikh telah menukar laluannya ke arah yang bertentangan, iaitu ke arah Barat, ini bermakna matahari akan terbit dari arah barat Marikh. Fenomena yang ganjil itu disebut sebagai “retrograde motion”.

Kebanyakan saintis Barat berpendapat bahawa semua planet akan melalui fenomena yang serupa dan ini termasuklah planet Bumi. Apabila ianya berlaku, maka matahari akan terbit dari Barat!

Subhanallah! Kekasih Allah Nabi Muhammad s.a.w. bersabda bahawa salah satu tanda besar yang hari kiamat akan tiba ialah apabila matahari terbit dari Barat.

Pihak NASA telahpun mendapati tanda-tanda matahari akan terbit dari Barat semasa ahli sains astronominya mengkaji pergerakan planet Marikh. Yang mereka tidak dapat pastikan ialah tempoh masa yang bakal diambil sehinggalah semua planet melalui fenomena yang serupa.

Dapatan sains oleh NASA itu semestinya memperkukuhkan lagi iman umat Islam akan tanda-tanda kiamat. Manusia tidak tahu bila ianya akan berlaku walaupun sudah ada banyak tanda-tandanya. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Keratan akhbar yang menyatakan bahawa NASA telah mengeluarkan kenyataan berkenaan isu ini

TEORI QURAN VS TEORI BARAT

Kalau di kaji dengan teliti, teori yang dijelaskan Al-Quran ini agak berbeza dari teori-teori barat. Yang pertama, Al-Quran menjelaskan bulan yang menyebabkan bumi bertukar arah. Al-Quran menunjukkan perkaitan yang erat dan rapat antara bumi dan bulan. Tetapi teori barat tidak ‘nampak’ pun peranan bulan dalam proses kejadian ini.

Yang ke-duanya, teori Al-Quran nampak lebih jelas dan mudah difahami, malah boleh dibuktikan melalui ujikaji makmal. Sedangkan teori barat tidak dapat diuji dalam makmal dan tidak menunjukkan keadaan matahari akan naik dari barat! Kalau berlaku perlanggaran yang teramat dahsyat (dengan komet yang besar), maka bumi akan hancur! Perlanggaran ‘kecil’ (seperti yang berlaku di Mexico) tidak akan dapat menukar putaran bumi. Lagi pun sekiranya komet melanggar bumi dari “arah yang salah” ianya mungkin akan menambah kelajuan pusingan yang ada sekarang misalkan dari 24 jam kepada 10 jam sahaja/hari. Sekiranya bumi berputar pada kelajuan ini, maka kelajuan objek yang berada pada permukaan equator (atau khatulistiwa) ialah kira-kira 4,000 km/sejam yang akan memusnahkan segala-galanya yang ada dipermukaan bumi seperti rumah, bangunan, tumbuhan, pohon kayu, dan manusia serta binatang-binatang akan berterbangan.

Lagi pun untuk membolehkan bumi perputar pada arah bertentangan, komet yang melanggar bumi mesti pergerak pada kelajuan lebih dari 2 kali kelajuan putaran bumi iaitu 3,300 km/jam (sekiranya saiz komet sama besar dengan saiz bumi), dan mesti melanggar bumi pada sudut dan lokasi yang tepat. Kalau ianya melanggar pada kutub utara, maka matahari tidak akan ‘terbit dari barat’.

Yang ke-tiga, teori Al-Quran adalah lebih tepat sebab tidak berlaku kerosakkan yang besar kepada makhluk di bumi. Sekiranya berlaku kemusnahan yang besar (misalnya bumi hancur), maka ini bermakna sudah “betul-betul kiamat” dan bukannya lagi “hampir kiamat”. Di dalam hadith di atas menjelaskan selepas matahari naik dari barat maka segala amalan dan taubat tidak diterima lagi, dan dajal akan turun ke bumi (ini menunjukkan manusia masih lagi hidup di bumi, dan berjalan seperti biasa).

Tambahan pula Al-Quran menyatakan (15:76) manusia akan melihat jalan-jalan tetap tegak, nampak seperti biasa tanpa sebarang kerosakan, dan masih boleh dilalui.

Ke-empat, penjelasan Al-Quran lebih menyeluruh dan dari teori barat. Ahli sains telah mendapati bahawa terdapat ‘2’ jenis permukaan bulan iaitu permukaan yang cerah (yang sentiasa mengadap bumi), dan permukaan gelap (yang sentiasa membelakangi bumi). Ke dua-dua permukaan ini mempunyai ciri-ciri yang berbeza yang amat ketara seperti warna, daya graviti, kandungan bahan-bahan, ketumpatan dan kemampatan, keradioaktifan, dan sebagainya. Oleh itu apabila bulan merekah ia akan merubah polar graviti, mengeluarkan tenaga elektromagnetik yang boleh menyebabkan daya graviti dan magnet bumi bertindak balas.

Sumber: Nizarazu

Rabu, 20 Juni 2012

Foto – Foto Masjid Indah

Masjid Nabawi (Madinah Saudi Arabia)
Masjid Nabawi (Madinah Saudi Arabia)
Masjid Al-Haram (Mekah Saudi Arabia)
Masjid Al-Haram (Mekah Saudi Arabia)
Masjid Al-Aqsa (Yerusalem Palestina)
Masjid Al-Aqsa (Yerusalem Palestina)
Masjid Raya Istiqlal (Jakarta Indonesia)
Masjid Raya Istiqlal (Jakarta Indonesia)
Masjid Agung At-Tin (Jakarta Indonesia)
Masjid Agung At-Tin (Jakarta Indonesia)
Masjid Dian Al-Mahri (Depok Indonesia)
Masjid Dian Al-Mahri (Depok Indonesia)
Masjid Agung Palembang (Indonesia)
Masjid Agung Palembang (Indonesia)
Masjid Agung Demak (Indonesia)
Masjid Agung Demak (Indonesia)
Masjid Habiburrahman (Bandung Indonesia)
Masjid Habiburrahman (Bandung Indonesia)
Masjid Agung Jawa Tengah (Semarang Indonesia)
Masjid Agung Jawa Tengah (Semarang Indonesia)
Masjid Agung An-Nur (Riau Indonesia)
Masjid Agung An-Nur (Riau Indonesia)
Masjid Samarinda (Indonesia)
Masjid Samarinda (Indonesia)
Masjid Al-Ittihad (Jatibarang Indonesia)
Masjid Al-Ittihad (Jatibarang Indonesia)
Masjid Al-Markaz Al-Islami (Makassar Indonesia)
Masjid Al-Markaz Al-Islami (Makassar Indonesia)
Masjid Al-Akbar (Surabaya Indonesia)
Masjid Al-Akbar (Surabaya Indonesia)
Masjid Raya Al-Mashun (Medan Indonesia)
Masjid Raya Al-Mashun (Medan Indonesia)
Masjid Raya Al-Muttaquun (Yogyakarta Indonesia)
Masjid Raya Al-Muttaquun (Yogyakarta Indonesia)
Masjid Raya Baiturrahman (Banda Aceh Indonesia)
Masjid Raya Baiturrahman (Banda Aceh Indonesia)
Masjid Cipari (Garut Indonesia)
Masjid Cipari (Garut Indonesia)
Masjid An-Nurumi (Yogyakarta Indonesia)
Masjid An-Nurumi (Yogyakarta Indonesia)
Masjid Muhammad Cheng Hoo (Palembang Indonesia)
Masjid Muhammad Cheng Hoo (Palembang Indonesia)
Masjid Bandar Seri Begawan (Brunei Darussalam)
Masjid Bandar Seri Begawan (Brunei Darussalam)
Masjid Sultan (Singapura)
Masjid Sultan (Singapura)
Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin (Brunei Darussalam)
Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin (Brunei Darussalam)
Masjid Al-Bukhary (Kedah Malaysia)
Masjid Al-Bukhary (Kedah Malaysia)
Masjid Zahir (Kedah Malaysia)
Masjid Zahir (Kedah Malaysia)
Masjid Al-Jaame'e (Kuala Lumpur Malaysia)
Masjid Al-Jaame’e (Kuala Lumpur Malaysia)
Masjid Jami' An-Nur (Labuan Malaysia)
Masjid Jami’ An-Nur (Labuan Malaysia)
Masjid Kristal (Kuala Terengganu Malaysia)
Masjid Kristal (Kuala Terengganu Malaysia)
Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin (Putrajaya Malaysia)
Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin (Putrajaya Malaysia)
Masjid Sana’a (Yaman)
Masjid Sana’a (Yaman)
Masjid Abdul Aziz (Gibraltar)
Masjid Abdul Aziz (Gibraltar)
Masjid Jami'e Sunamganj (Bangladesh)
Masjid Jami’e Sunamganj (Bangladesh)
Masjid Muhammad Ali (Kairo Mesir)
Masjid Muhammad Ali (Kairo Mesir)
Masjid Bibi Heybat (Baku Azerbaijan)
Masjid Bibi Heybat (Baku Azerbaijan)
Masjid Quba (Madinah Saudi Arabia)
Masjid Quba (Madinah Saudi Arabia)
Masjid Sabanci (Andana Turki)
Masjid Sabanci (Andana Turki)
Masjid Sheikh Zayed (Abu Dhabi Uni Emirat Arab)
Masjid Sheikh Zayed (Abu Dhabi Uni Emirat Arab)
Masjid Al-Azhar (Kairo Mesir)
Masjid Al-Azhar (Kairo Mesir)
Masjid Suneri Lahore (Pakistan)
Masjid Suneri Lahore (Pakistan)
Masjid Shah Faisal (Islamabad Pakistan)
Masjid Shah Faisal (Islamabad Pakistan)
Masjid Jowharshad (Iran)
Masjid Jowharshad (Iran)
Masjid Sulaiman (Istanbul)
Masjid Sulaiman (Istanbul)
Masjid Sultan Ahmad (Istanbul)
Masjid Sultan Ahmad (Istanbul)
Masjid Merah (Srilanka)
Masjid Merah (Srilanka)
Masjid Schwetzingen (Jerman)
Masjid Schwetzingen (Jerman)
Masjid Al-Fateh (Bahrain)
Masjid Al-Fateh (Bahrain)
Masjid Gallipolli (Australia)
Masjid Gallipolli (Australia)
Masjid Sentral Koeln (Jerman)
Masjid Sentral Koeln (Jerman)
Masjid Hassan (Casablanca)
Masjid Hassan (Casablanca)
Masjid Umayyad (Damaskus Syria)
Masjid Umayyad (Damaskus Syria)
Masjid Jamia (Nairobi Kenya)
Masjid Jamia (Nairobi Kenya)
Masjid Hulhumale (Republik Maladewa)
Masjid Hulhumale (Republik Maladewa)
Masjid Emas (Manila Filipina)
Masjid Emas (Manila Filipina)
Masjid Rey Fahd (Argentina)
Masjid Rey Fahd (Argentina)
Masjid Birmingham (Inggris)
Masjid Birmingham (Inggris)
Masjid Kul Sharif (Kazan Rusia)
Masjid Kul Sharif (Kazan Rusia)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Blogger Gadgets