Translate This Blog

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Juli 2012

Rakyat Aceh Tak Perlu Ucapkan ‘Terima Kasih Gubernur’, GAM: Garuda Dijidadku

Acehtraffic.com - Setelah gubernur Aceh yang baru dilantik beberapa waktu yang lalu, ribuan ucapan terimakasih dari pasangan gubernur terpilih terhadap rakyat aceh yang telah memilih pasangan dari partai PA dimuat di beberapa koran lokal bahkan hingga memasang spanduk berisikan ucapan terima kasih di seluruh penjuru provinsi tanah rencong.

Perlukah itu semua dilakukan? bukanlah ucapan terimakasih dalam bentuk kata-kata di lembaran koran yang diinginkan rakyat Aceh karena kata-kata dikoran tersebut akan berakhir menjadi pembungkus ikan asin juga bukan sekedar ucapan dalam bentuk spanduk yang diharapkan rakyat Aceh. Spanduk yang terbentang dilangit-langit badan jalan raya yang diapit oleh kedua toko yang saling bersisian bagaikan sebuah jemuran dan menjadi tempat persinggahan debu dan polusi udara dan jika telah usang digunakan sebagai penutup tinja rakyat miskin untuk melindungi auratnya saat membuang hajat.

Baiknya gubernur terpilih menunjukkan ucapan terima kasihnya dalam bentuk tindakan tanpa perlu mengucap kata terimakasih menggunakan iklan diberbagai media cetak maupun spanduk yang tidak sedikit menguras biaya. Syukur-syukur jika dana ucapan terimakasih itu digunakan uang pribadinya namun bagaimana jika ternyata iklan ucapan terimakasih digunakan dengan uang rakyat ? 

Dan jika itu memang uang rakyat maka kata yang lebih tepat dalam iklan dimedia maupun spanduk adalah “terima kasih rakyat Aceh yang telah membayar pajak karena dengan pajak anda kami dapat mengucapkan terimakasih melalui iklan dimedia cetak dan spanduk ini, semoga kedepan anda lebih rajin membayar pajak dan tidak ada yang nunggak sehingga kami dapat mengiklankan ucapan terimakasih kami lebih banyak lagi”.

Sekarang rakyat Aceh telah memilih Zaini Abdullah sebagai gubernur dan Muzakir Manaf sebagai wakil gubernur tampil sebagai pemenang pada pesta rakyat yang ternoda tahun 2012 ini. Lupakan sejenak jika pasangan gubernur itu terpilih karena intimidasi dan teror ditangani ‘pengocok hukum’, malah kepolisian sendiri tak mau lagi mempersoalkannya, yang terpenting saat ini rakyat Aceh menunggu “terima kasih” pasangan gubernur terpilih bukan dalam bentuk ucapan belaka, lebih dari itu rakyat Aceh menunggu implementasi wujud terimakasih. Mereka [Zaini abdullah dan Muzakir manaf] tentu masih ingat program kerja yang mereka tawarkan dan dirampungkan kedalam visi dan misi pada saat mereka berjualan dipentas kampanye pemilu 2012 lalu. 

Rakyat Aceh sama-sama mengharapkan agar pasangan gubernur terpilih tidak melupakan janjinya dengan mengatakan “saya sudah lupa tuh ?!?!” karena visi dan misi itulah yang dinanti-nantikan rakyat Aceh. Itulah produk mereka yang laku dipasar pemilu 2012 bukan karena pendidikan Gubernur Dr Manusia [Zaini Abdullah] yang notabene hanya mengecap S1 sementara wakilnya Muzakir manaf hanya tamatan sekolah dasar dan jika pun memiliki ijazah SMA mungkin tak jauh berbeda dengan para anggota DPRA yang kebanyakan lulusan paket galian C.

Kabar angin tak sedap pun berembus hingga ketelinga para pengemis dijalanan dekat lampu merah. Begitu banyak orang terdekat pasangan gubernur terpilih sekarang yang kaya mendadak lalu bagaimana dengan rakyat Aceh ? apakah mereka dibiarkan terus meratapi kemiskinannya sementara di bumi Aceh kaya akan sumber daya alam? Ataukah rakyat Aceh itu sendiri bukan orang terdekat Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf seperti yang mereka suarakan pada saat kampanye dihadapan ribuan rakyat aceh yang memerahkan lapangan terbuka, “hai syedara lon ban mandum yang meutuah, jinoe geutanyoe ban ban dum ka bla bla bla” namun ketika mereka telah terpilih saudara atau kerabat dekatnya hanya segelintir orang dari partai Aceh.

Salah satu jendral TNI yang disebut-sebut ikut bertanggung jawab terhadap pembantaian rakyat Aceh pun kini dipeluk dan berjabat erat penuh mesra, apa kata Mualem “sejak dulu kami sudah dekat” wowww sesuatu bhangeeet?, cepat akrab walau beda ideologi suatu tindakan yang tak pernah dilakukan terhadap rakyatnya sendiri padahal ketika konflik rakyat ikut merasakan pahit getirnya perang, bahkan jumlah korban terbanyak terdapat dari kalangan rakyat yang tak berdosa.

Jika para serdadu TNI ‘garuda didadaku’ maka eks GAM sekarang ‘garuda di jidadku’ sementara rakyat Aceh tidak mau lagi mengharapkan hal yang mustahil ‘Udep beusare matee beu saja’ karena menurut mereka kata-kata tersebut telah punah sebagaimana punahnya masa kejayaan Aceh dimasa lampau. Rakyat Aceh sekarang lebih mengharapkan poin sila ke 4 dari pancasila yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

Rakyat Aceh butuh seorang pemimpin yang arif dan bijaksana bukan penjilat pantat Presiden di Istana merdeka [lumbung korupsi] dan juga bukan pemimpin kesetanan yang mengobral kata pengkhianat jika beda aliran politik sesatnya. 

Semoga di era kepemimpinan Partai Aceh keinginan rakyat Aceh tercapai, kini saatnya untuk membuktikan janji kampanye Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf. Buktikan Partai Aceh !!! Buktikan Merahmu !!! Jangan kau gelapkan harapan rakyat Aceh dengan garis hitammu, jangan kau penggal rakyat Aceh dengan bulan sabitmu dan semoga bintang tidak berubah menjadi martil yang menyilangi bulan sabit karena Aceh bukan Nanggroe Komunis Bapak Teungku.

Hermansyah, Penulis adalah anak laut korban pembangunan tanggul pemecah ombak bibir pantai Lhokseumawe, berdarah Kalimantan – Aceh saat ini Berdomisili di Lhokseumawe.

Sumber : http://www.acehtraffic.com/2012/07/rakyat-aceh-tak-perlu-ucapkan-terima.html

Rakyat Aceh Tak Perlu Ucapkan ‘Terima Kasih Gubernur’, GAM: Garuda Dijidadku

Acehtraffic.com - Setelah gubernur Aceh yang baru dilantik beberapa waktu yang lalu, ribuan ucapan terimakasih dari pasangan gubernur terpilih terhadap rakyat aceh yang telah memilih pasangan dari partai PA dimuat di beberapa koran lokal bahkan hingga memasang spanduk berisikan ucapan terima kasih di seluruh penjuru provinsi tanah rencong.

Perlukah itu semua dilakukan? bukanlah ucapan terimakasih dalam bentuk kata-kata di lembaran koran yang diinginkan rakyat Aceh karena kata-kata dikoran tersebut akan berakhir menjadi pembungkus ikan asin juga bukan sekedar ucapan dalam bentuk spanduk yang diharapkan rakyat Aceh. Spanduk yang terbentang dilangit-langit badan jalan raya yang diapit oleh kedua toko yang saling bersisian bagaikan sebuah jemuran dan menjadi tempat persinggahan debu dan polusi udara dan jika telah usang digunakan sebagai penutup tinja rakyat miskin untuk melindungi auratnya saat membuang hajat.

Baiknya gubernur terpilih menunjukkan ucapan terima kasihnya dalam bentuk tindakan tanpa perlu mengucap kata terimakasih menggunakan iklan diberbagai media cetak maupun spanduk yang tidak sedikit menguras biaya. Syukur-syukur jika dana ucapan terimakasih itu digunakan uang pribadinya namun bagaimana jika ternyata iklan ucapan terimakasih digunakan dengan uang rakyat ? 

Dan jika itu memang uang rakyat maka kata yang lebih tepat dalam iklan dimedia maupun spanduk adalah “terima kasih rakyat Aceh yang telah membayar pajak karena dengan pajak anda kami dapat mengucapkan terimakasih melalui iklan dimedia cetak dan spanduk ini, semoga kedepan anda lebih rajin membayar pajak dan tidak ada yang nunggak sehingga kami dapat mengiklankan ucapan terimakasih kami lebih banyak lagi”.

Sekarang rakyat Aceh telah memilih Zaini Abdullah sebagai gubernur dan Muzakir Manaf sebagai wakil gubernur tampil sebagai pemenang pada pesta rakyat yang ternoda tahun 2012 ini. Lupakan sejenak jika pasangan gubernur itu terpilih karena intimidasi dan teror ditangani ‘pengocok hukum’, malah kepolisian sendiri tak mau lagi mempersoalkannya, yang terpenting saat ini rakyat Aceh menunggu “terima kasih” pasangan gubernur terpilih bukan dalam bentuk ucapan belaka, lebih dari itu rakyat Aceh menunggu implementasi wujud terimakasih. Mereka [Zaini abdullah dan Muzakir manaf] tentu masih ingat program kerja yang mereka tawarkan dan dirampungkan kedalam visi dan misi pada saat mereka berjualan dipentas kampanye pemilu 2012 lalu. 

Rakyat Aceh sama-sama mengharapkan agar pasangan gubernur terpilih tidak melupakan janjinya dengan mengatakan “saya sudah lupa tuh ?!?!” karena visi dan misi itulah yang dinanti-nantikan rakyat Aceh. Itulah produk mereka yang laku dipasar pemilu 2012 bukan karena pendidikan Gubernur Dr Manusia [Zaini Abdullah] yang notabene hanya mengecap S1 sementara wakilnya Muzakir manaf hanya tamatan sekolah dasar dan jika pun memiliki ijazah SMA mungkin tak jauh berbeda dengan para anggota DPRA yang kebanyakan lulusan paket galian C.

Kabar angin tak sedap pun berembus hingga ketelinga para pengemis dijalanan dekat lampu merah. Begitu banyak orang terdekat pasangan gubernur terpilih sekarang yang kaya mendadak lalu bagaimana dengan rakyat Aceh ? apakah mereka dibiarkan terus meratapi kemiskinannya sementara di bumi Aceh kaya akan sumber daya alam? Ataukah rakyat Aceh itu sendiri bukan orang terdekat Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf seperti yang mereka suarakan pada saat kampanye dihadapan ribuan rakyat aceh yang memerahkan lapangan terbuka, “hai syedara lon ban mandum yang meutuah, jinoe geutanyoe ban ban dum ka bla bla bla” namun ketika mereka telah terpilih saudara atau kerabat dekatnya hanya segelintir orang dari partai Aceh.

Salah satu jendral TNI yang disebut-sebut ikut bertanggung jawab terhadap pembantaian rakyat Aceh pun kini dipeluk dan berjabat erat penuh mesra, apa kata Mualem “sejak dulu kami sudah dekat” wowww sesuatu bhangeeet?, cepat akrab walau beda ideologi suatu tindakan yang tak pernah dilakukan terhadap rakyatnya sendiri padahal ketika konflik rakyat ikut merasakan pahit getirnya perang, bahkan jumlah korban terbanyak terdapat dari kalangan rakyat yang tak berdosa.

Jika para serdadu TNI ‘garuda didadaku’ maka eks GAM sekarang ‘garuda di jidadku’ sementara rakyat Aceh tidak mau lagi mengharapkan hal yang mustahil ‘Udep beusare matee beu saja’ karena menurut mereka kata-kata tersebut telah punah sebagaimana punahnya masa kejayaan Aceh dimasa lampau. Rakyat Aceh sekarang lebih mengharapkan poin sila ke 4 dari pancasila yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

Rakyat Aceh butuh seorang pemimpin yang arif dan bijaksana bukan penjilat pantat Presiden di Istana merdeka [lumbung korupsi] dan juga bukan pemimpin kesetanan yang mengobral kata pengkhianat jika beda aliran politik sesatnya. 

Semoga di era kepemimpinan Partai Aceh keinginan rakyat Aceh tercapai, kini saatnya untuk membuktikan janji kampanye Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf. Buktikan Partai Aceh !!! Buktikan Merahmu !!! Jangan kau gelapkan harapan rakyat Aceh dengan garis hitammu, jangan kau penggal rakyat Aceh dengan bulan sabitmu dan semoga bintang tidak berubah menjadi martil yang menyilangi bulan sabit karena Aceh bukan Nanggroe Komunis Bapak Teungku.

Hermansyah, Penulis adalah anak laut korban pembangunan tanggul pemecah ombak bibir pantai Lhokseumawe, berdarah Kalimantan – Aceh saat ini Berdomisili di Lhokseumawe.

Sumber : http://www.acehtraffic.com/2012/07/rakyat-aceh-tak-perlu-ucapkan-terima.html

Rabu, 27 Juni 2012

Irwandi Yusuf Ikuti Jejak Ibrahim Hasan

image

Banda Aceh,BN-Masih ingat dengan tragedi yang menimpa Mantan Gubernur Aceh Ibrahim Hasan?.Pada Agustus 1998, seusai dialog di Hotel Cempaka, Jakarta, dia dipukul lelaki tak dikenal yang kesal dengan pernyataan Ibrahim tentang operasi militer di Aceh.
Kini, tragedi tersebut terjadi pada bekas Gubernur Aceh lainnya, Irwandi Yusuf. Tragisnya mantan GAM itu diduga di serang oleh sekelompok orang usai menghadiri pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh yang baru di gedung DPR Aceh, Senin (25/6).
Kedatangan Irwandi Yusuf ke acara pelantikan tersebut dalam rangka memenuhi undangan panitia, karena yang bersangkutan kapasitasnya sebagai mantan gubernur, memang orang yang layak di undang. Namun tak di nyana, wibawanya hilang di tangan sekelompok orang.
"Irwandi kini di rawat di rumah sakit akibat di pukul oleh massa yang di duga dari pengikut Partai Aceh," info seseorang yang dekat dengan mantan Gubernur Aceh itu. "Saya tak tahu sebabnya, apa karena Irwandi lebih memilih mendirikan partai lokal lain ketimbang bergabung dengan Partai Aceh, atau karena dendam pilkada, saya tak tahu," jawabnya ketika ditanyakan apa penyebabnya.
Nasib Irwandi Yusuf sama persis dengan mantan gubernur terdahulu, Ibrahim Hasan, sama-sama di pukul karena kebencian yang bersangkutan di anggap pengkhianat."Keduanya bernasib sama, sama-sama kena pukul dan namanya juga sama-sama berawalan huruf I,Irwandi dan Ibrahim," kelakar seorang wartawan mengomentari insiden memilukan itu.(TM)

Irwandi Yusuf Ikuti Jejak Ibrahim Hasan

image

Banda Aceh,BN-Masih ingat dengan tragedi yang menimpa Mantan Gubernur Aceh Ibrahim Hasan?.Pada Agustus 1998, seusai dialog di Hotel Cempaka, Jakarta, dia dipukul lelaki tak dikenal yang kesal dengan pernyataan Ibrahim tentang operasi militer di Aceh.
Kini, tragedi tersebut terjadi pada bekas Gubernur Aceh lainnya, Irwandi Yusuf. Tragisnya mantan GAM itu diduga di serang oleh sekelompok orang usai menghadiri pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh yang baru di gedung DPR Aceh, Senin (25/6).
Kedatangan Irwandi Yusuf ke acara pelantikan tersebut dalam rangka memenuhi undangan panitia, karena yang bersangkutan kapasitasnya sebagai mantan gubernur, memang orang yang layak di undang. Namun tak di nyana, wibawanya hilang di tangan sekelompok orang.
"Irwandi kini di rawat di rumah sakit akibat di pukul oleh massa yang di duga dari pengikut Partai Aceh," info seseorang yang dekat dengan mantan Gubernur Aceh itu. "Saya tak tahu sebabnya, apa karena Irwandi lebih memilih mendirikan partai lokal lain ketimbang bergabung dengan Partai Aceh, atau karena dendam pilkada, saya tak tahu," jawabnya ketika ditanyakan apa penyebabnya.
Nasib Irwandi Yusuf sama persis dengan mantan gubernur terdahulu, Ibrahim Hasan, sama-sama di pukul karena kebencian yang bersangkutan di anggap pengkhianat."Keduanya bernasib sama, sama-sama kena pukul dan namanya juga sama-sama berawalan huruf I,Irwandi dan Ibrahim," kelakar seorang wartawan mengomentari insiden memilukan itu.(TM)

Senin, 25 Juni 2012

Foto-foto: Peusijuek Zaini-Muzakkir Jelang Pelantikan

MUZAKKIR | ACEH INDEPENDENT

Sebelum dilantik, pasangan Gubernur Aceh terpilih Zaini Abdullah-Muzakir Manaf dipeusijuek oleh para ulama Aceh di Mesjid Raya Baiturahman tadi pagi, Senin (25/6/2012). Peusijuek diawali dengan doa istighasah yang dipimpin oleh Majelis Ulama Nanggroe Aceh. Prosesi peusijuek diawali oleh Abu Teumin Blang Blahdeeh dan Abuya Jamaluddin Wali.

Zaini Abdullah datang ke mesjid Baiturrahman dikawal oleh para satgas Partai Aceh setelah pembacaan doa selesai. Sedangkan Muzakir Manaf tiba lima menit kemudian dengan mengendarai mobil sendiri.

Abu Razak Ketua Pemenangan PA pusat, dalam sambutannya berterima kasih kepada rakyat Aceh yang telah membantu selama pemilukada dan meminta maaf jika ada tingkah PA yang kasar.

“Kemenangan ini kemenangan rakyat Aceh, kru semangat!” Kata Abu Razak.

Leave a Reply

Foto-foto: Peusijuek Zaini-Muzakkir Jelang Pelantikan

MUZAKKIR | ACEH INDEPENDENT

Sebelum dilantik, pasangan Gubernur Aceh terpilih Zaini Abdullah-Muzakir Manaf dipeusijuek oleh para ulama Aceh di Mesjid Raya Baiturahman tadi pagi, Senin (25/6/2012). Peusijuek diawali dengan doa istighasah yang dipimpin oleh Majelis Ulama Nanggroe Aceh. Prosesi peusijuek diawali oleh Abu Teumin Blang Blahdeeh dan Abuya Jamaluddin Wali.

Zaini Abdullah datang ke mesjid Baiturrahman dikawal oleh para satgas Partai Aceh setelah pembacaan doa selesai. Sedangkan Muzakir Manaf tiba lima menit kemudian dengan mengendarai mobil sendiri.

Abu Razak Ketua Pemenangan PA pusat, dalam sambutannya berterima kasih kepada rakyat Aceh yang telah membantu selama pemilukada dan meminta maaf jika ada tingkah PA yang kasar.

“Kemenangan ini kemenangan rakyat Aceh, kru semangat!” Kata Abu Razak.

Leave a Reply

Partai Aceh Bantah Terlibat Pemukulan Irwandi

Partai bentukan mantan kombatan GAM yang telah berhasil memenangkan pasangan dr Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf itu menyesalkan aksi pemukulan itu.
"Tidak ada kaitan dengan Partai Aceh karena memang yang melakukannya adalah massa. Kami menyayangkan aksi pemukulan itu," kata Juru Bicara Partai Aceh, Fahrul Razi, saat dihubungi VIVAnews, Senin 25 Juni 2012.
Fahrul mengatakan, saat kejadian dirinya masih berada di dalam gedung utama DPR Aceh. Menurutnya, aksi pemukulan itu tidak dapat dikaitkan dengan Partai Aceh karena dilakukan oleh kerumunan massa yang menyaksikan prosesi pelantikan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh terpilih periode 2012-2017.
Dia juga mengatakan, pihaknya menyerahkan pengusutan kasus tersebut kepada pihak keamanan, agar kasus ini lebih terang dan tidak ada yang dirugikan. "Kita serahkan kepada pihak kepolisian untuk mengusutnya," ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya Mantan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Irwandi Yusuf menjadi korban amuk massa pendukung Partai Aceh, usai pelantikan Gubernur dan wakil Gubernur Aceh yang baru. Irwandi menderita luka lebam di pipi sebelah kiri dan kepala bagian belakang akibat dipukuli di halaman kantor Dewan Perwakilan Rakyat Aceh.
Irwandi yang kacamatanya pecah dalam kejadian itu kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Zainoel Abidin, Banda Aceh. Keributan lebih lanjut berhasil dihindari karena sejumlah polisi datang melerai.
Irwandi mengaku saat ke luar dari ruang sidang paripurna DPRA usai pelantikan, dia mendengar sejumlah teriakan dari para  pendukung Partai Aceh. Irwandi lalu dikerubungi Satuan Petugas Partai Aceh yang bertugas mengamankan para tamu.
"Mereka meneriaki saya, Irwandi pengkhianat, lalu saya ditarik dan dipukuli," katanya saat ditemui di ruang pemulihan Trauma Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh | VIVANews

Partai Aceh Bantah Terlibat Pemukulan Irwandi

Partai bentukan mantan kombatan GAM yang telah berhasil memenangkan pasangan dr Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf itu menyesalkan aksi pemukulan itu.
"Tidak ada kaitan dengan Partai Aceh karena memang yang melakukannya adalah massa. Kami menyayangkan aksi pemukulan itu," kata Juru Bicara Partai Aceh, Fahrul Razi, saat dihubungi VIVAnews, Senin 25 Juni 2012.
Fahrul mengatakan, saat kejadian dirinya masih berada di dalam gedung utama DPR Aceh. Menurutnya, aksi pemukulan itu tidak dapat dikaitkan dengan Partai Aceh karena dilakukan oleh kerumunan massa yang menyaksikan prosesi pelantikan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh terpilih periode 2012-2017.
Dia juga mengatakan, pihaknya menyerahkan pengusutan kasus tersebut kepada pihak keamanan, agar kasus ini lebih terang dan tidak ada yang dirugikan. "Kita serahkan kepada pihak kepolisian untuk mengusutnya," ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya Mantan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Irwandi Yusuf menjadi korban amuk massa pendukung Partai Aceh, usai pelantikan Gubernur dan wakil Gubernur Aceh yang baru. Irwandi menderita luka lebam di pipi sebelah kiri dan kepala bagian belakang akibat dipukuli di halaman kantor Dewan Perwakilan Rakyat Aceh.
Irwandi yang kacamatanya pecah dalam kejadian itu kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Zainoel Abidin, Banda Aceh. Keributan lebih lanjut berhasil dihindari karena sejumlah polisi datang melerai.
Irwandi mengaku saat ke luar dari ruang sidang paripurna DPRA usai pelantikan, dia mendengar sejumlah teriakan dari para  pendukung Partai Aceh. Irwandi lalu dikerubungi Satuan Petugas Partai Aceh yang bertugas mengamankan para tamu.
"Mereka meneriaki saya, Irwandi pengkhianat, lalu saya ditarik dan dipukuli," katanya saat ditemui di ruang pemulihan Trauma Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh | VIVANews

Irwandi Yusuf: Saya Diteriaki Pengkhianat

Banda Aceh | acehtraffic.com- Mantan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Irwandi Yusuf menjadi korban amuk massa pendukung Partai Aceh, usai pelantikan Gubernur dan wakil Gubernur Aceh yang baru. 

Irwandi menderita luka lebam di pipi sebelah kiri dan kepala bagian belakang akibat dipukuli di halaman kantor Dewan Perwakilan Rakyat Aceh.
Irwandi yang kacamatanya pecah dalam kejadian itu kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Zainoel Abidin, Banda Aceh. Keributan lebih lanjut berhasil dihindari karena sejumlah polisi datang melerai.
Irwandi mengaku saat ke luar dari ruang sidang paripurna DPRA usai pelantikan, dia mendengar sejumlah teriakan dari para  pendukung Partai Aceh. Irwandi lalu dikerubungi Satuan Petugas Partai Aceh yang bertugas mengamankan para tamu.
"Mereka meneriaki saya, Irwandi penghianat, lalu saya ditarik dan dipukuli," katanya saat ditemui di ruang pemulihan Trauma Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh, Senin 25 Juni 2012.
Saat pemukulan itu, dia mengaku mengenali beberapa orang pelaku. Salah satunya adalah orang yang pernah membakar rumah singgahnya di kawasan Maheng, Aceh Besar. "Ada beberapa orang yang saya kenal, dan mereka langsung memukuli saya," ujarnya.
Irwandi telah meminta polisi menangkap para penyerang dirinya. Dia berharap kasus pemukulan itu diselesaikan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

"Tanpa saya laporkan juga, kasus ini harus diproses hukum," katanya.
Saat ini Irwandi menunggu hasil visum dari dokter. Sejumlah kerabat dan koleganya seperti mantan Juru Bicara GAM Sofyan Daud, mantan Juru Bicara GAM Aceh Rayeuk Muksalmina, Walikota Sabang Munawarliza Zainal, dan sejumlah tim sukses pemenangan Irwandi dalam pilkada lalu ikut membesuk Irwandi di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit.
Sementara, dari kubu Partai Aceh belum didapatkan keterangan mengenai kejadian ini. | Vivanews

Irwandi Yusuf: Saya Diteriaki Pengkhianat

Banda Aceh | acehtraffic.com- Mantan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Irwandi Yusuf menjadi korban amuk massa pendukung Partai Aceh, usai pelantikan Gubernur dan wakil Gubernur Aceh yang baru. 

Irwandi menderita luka lebam di pipi sebelah kiri dan kepala bagian belakang akibat dipukuli di halaman kantor Dewan Perwakilan Rakyat Aceh.
Irwandi yang kacamatanya pecah dalam kejadian itu kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Zainoel Abidin, Banda Aceh. Keributan lebih lanjut berhasil dihindari karena sejumlah polisi datang melerai.
Irwandi mengaku saat ke luar dari ruang sidang paripurna DPRA usai pelantikan, dia mendengar sejumlah teriakan dari para  pendukung Partai Aceh. Irwandi lalu dikerubungi Satuan Petugas Partai Aceh yang bertugas mengamankan para tamu.
"Mereka meneriaki saya, Irwandi penghianat, lalu saya ditarik dan dipukuli," katanya saat ditemui di ruang pemulihan Trauma Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh, Senin 25 Juni 2012.
Saat pemukulan itu, dia mengaku mengenali beberapa orang pelaku. Salah satunya adalah orang yang pernah membakar rumah singgahnya di kawasan Maheng, Aceh Besar. "Ada beberapa orang yang saya kenal, dan mereka langsung memukuli saya," ujarnya.
Irwandi telah meminta polisi menangkap para penyerang dirinya. Dia berharap kasus pemukulan itu diselesaikan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

"Tanpa saya laporkan juga, kasus ini harus diproses hukum," katanya.
Saat ini Irwandi menunggu hasil visum dari dokter. Sejumlah kerabat dan koleganya seperti mantan Juru Bicara GAM Sofyan Daud, mantan Juru Bicara GAM Aceh Rayeuk Muksalmina, Walikota Sabang Munawarliza Zainal, dan sejumlah tim sukses pemenangan Irwandi dalam pilkada lalu ikut membesuk Irwandi di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit.
Sementara, dari kubu Partai Aceh belum didapatkan keterangan mengenai kejadian ini. | Vivanews

Mendagri Lantik Gubernur dan Wagub Aceh Terpilih

Banda Aceh, 25/6 (ANTARA) - Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi melantik Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2012-2017 pada rapat paripurna istimewa DPRA di Banda Aceh, Senin.

Wartawan dari gedung DPR Aceh melaporkan, prosesi acara pelantikan yang dihadiri sekitar 6.000 undangan itu diawali dengan Salawat Badar dan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dilantunkan seluruh undangan.

Hadir pada pelantikan itu antara lain Menko Polhukam Djoko Suyanto, Ketua Pembina DPP Partai Gerindra Probowo Subianto dan sejumlah anggota DPR terutama asal Aceh.

Prosesi pelantikan pemimpin Aceh yang diusung dari Partai Aceh itu dikawal ketat aparat kepolisian dan dibantu Satgas Partai Aceh.

Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh menetapkan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih periode 2012-2017 pada pilkada 9 April 2012.

Zaini dan Muzakir yang diusung Partai Aceh ditetapkan sebagai pemenang dengan mendulang dukungan 1.327.695 suara atau 55,75 persen, sementara lawannya pasangan Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan hanya mampu mengumpulkan 694.515 suara atau 29,18 persen.

Kemudian disusul pasangan Muhammad Nazar-Nova Iriansyah mengumpulkan 182.876 suara atau 7,65 persen, pasangan calon perseorangan Darni M Daud dan Teungku Ahmad Tajuddin hanya memperoleh masing-masing 96.767 suara (4,07 persen) dan 79.330 suara (3,33 persen).  ***1***
(T.A042/ b/a011) 
(T.A042/B/A011/A011)

Mendagri Lantik Gubernur dan Wagub Aceh Terpilih

Banda Aceh, 25/6 (ANTARA) - Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi melantik Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2012-2017 pada rapat paripurna istimewa DPRA di Banda Aceh, Senin.

Wartawan dari gedung DPR Aceh melaporkan, prosesi acara pelantikan yang dihadiri sekitar 6.000 undangan itu diawali dengan Salawat Badar dan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dilantunkan seluruh undangan.

Hadir pada pelantikan itu antara lain Menko Polhukam Djoko Suyanto, Ketua Pembina DPP Partai Gerindra Probowo Subianto dan sejumlah anggota DPR terutama asal Aceh.

Prosesi pelantikan pemimpin Aceh yang diusung dari Partai Aceh itu dikawal ketat aparat kepolisian dan dibantu Satgas Partai Aceh.

Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh menetapkan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih periode 2012-2017 pada pilkada 9 April 2012.

Zaini dan Muzakir yang diusung Partai Aceh ditetapkan sebagai pemenang dengan mendulang dukungan 1.327.695 suara atau 55,75 persen, sementara lawannya pasangan Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan hanya mampu mengumpulkan 694.515 suara atau 29,18 persen.

Kemudian disusul pasangan Muhammad Nazar-Nova Iriansyah mengumpulkan 182.876 suara atau 7,65 persen, pasangan calon perseorangan Darni M Daud dan Teungku Ahmad Tajuddin hanya memperoleh masing-masing 96.767 suara (4,07 persen) dan 79.330 suara (3,33 persen).  ***1***
(T.A042/ b/a011) 
(T.A042/B/A011/A011)

Usai Pelantikan Zikir, Irwandi Dilarikan ke Unit Gawat Darurat RSUZA

 

Banda Aceh-ANP: Setelah mengalami insiden pemukulan oleh beberapa orang di pintu gerbang DPR Aceh,Usai pelantikan, mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dirawat di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin, Banda Aceh, Senin 25 Juni 2012.

Pantauan The Atjeh Post, puluhan polisi bersenjata lengkap berada di depan UGD. Ada juga beberapa polisi berpakaian preman.Hingga kini belum diketahui luka yang diderita Irwandi akibat pemukulan tersebut. Informasi didapat The Atjeh Post, Irwandi menderita lebam di pipi kanannya dan luka di kepala kiri.

Di dalam ruangan itu terlihat dua dokter, Andalas dan Taufik, sedang menangani Irwandi. Terlihat juga beberapa kolega Irwandi berada di ruangan tersebut seperti Muksalmina, Ketua Partai Nasional Aceh, dan Sofyan Dawod.

Sebelumnya diberitakan, ketika keluar dari acara pelantikan Zaini-Muzakir di ruang sidang utama DPR Aceh, Irwandi Yusuf dipukul oleh beberapa orang.Insiden itu terjadi ketika Irwandi tiba di gerbang depan DPRA. Sebelumnya Irwandi sempat diteriaki pengkhianat oleh massa yang berada di halaman gedung DPRA.

Setelah keluar dari gedung utama DPR Aceh, Irwandi sempat dikawal beberapa polisi. Ketika pemukulan terjadi, Irwandi berupaya lari ke mobil dan diamankan oleh beberapa polisi dari Polresta Banda Aceh.Lalu beberapa orang mencoba menengahi insiden tersebut. Irwandi kemudian dinaikkan ke mobil patroli Polresta dan dibawa pergi dari lokasi itu.(Ap)

Usai Pelantikan Zikir, Irwandi Dilarikan ke Unit Gawat Darurat RSUZA

 

Banda Aceh-ANP: Setelah mengalami insiden pemukulan oleh beberapa orang di pintu gerbang DPR Aceh,Usai pelantikan, mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dirawat di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin, Banda Aceh, Senin 25 Juni 2012.

Pantauan The Atjeh Post, puluhan polisi bersenjata lengkap berada di depan UGD. Ada juga beberapa polisi berpakaian preman.Hingga kini belum diketahui luka yang diderita Irwandi akibat pemukulan tersebut. Informasi didapat The Atjeh Post, Irwandi menderita lebam di pipi kanannya dan luka di kepala kiri.

Di dalam ruangan itu terlihat dua dokter, Andalas dan Taufik, sedang menangani Irwandi. Terlihat juga beberapa kolega Irwandi berada di ruangan tersebut seperti Muksalmina, Ketua Partai Nasional Aceh, dan Sofyan Dawod.

Sebelumnya diberitakan, ketika keluar dari acara pelantikan Zaini-Muzakir di ruang sidang utama DPR Aceh, Irwandi Yusuf dipukul oleh beberapa orang.Insiden itu terjadi ketika Irwandi tiba di gerbang depan DPRA. Sebelumnya Irwandi sempat diteriaki pengkhianat oleh massa yang berada di halaman gedung DPRA.

Setelah keluar dari gedung utama DPR Aceh, Irwandi sempat dikawal beberapa polisi. Ketika pemukulan terjadi, Irwandi berupaya lari ke mobil dan diamankan oleh beberapa polisi dari Polresta Banda Aceh.Lalu beberapa orang mencoba menengahi insiden tersebut. Irwandi kemudian dinaikkan ke mobil patroli Polresta dan dibawa pergi dari lokasi itu.(Ap)

Muallem Bercita-cita Ingin Sejahterakan Aneuk Nanggroe

JIKA Allah berkehendak mengangkat derajat seseorang tentu tak ada yang mampu menghalangi.

Itulah yang kini berlaku atas diri Muzakir Manaf, laki-laki Gampong Mane Kawan, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara. Muzakir yang akrab disapa Mualem akan mendapingi dr Zaini Abdullah sebagai Wagub Aceh.
Suatu malam, Minggu 8 April 2012 atau menjelang Pilkada 2012, Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem mengungkapkan, cita-cita ingin mensejahterakan aneuk Nanggroe (masyarakat) sudah terpatri sejak usianya masih belia. 

Padahal, Muzakir muda hanyalah seorang anak petani yang ekonominya pas-pasan, malah untuk uang jajan saja ketika ia masih sekolah di SMA Pase nyaris tak terpenuhi.
“Berangkat dari realita masyarakat Aceh yang melarat akibat kesulitan lapangan kerja, dan kemudian saya membaca sejarah perjuangan orang Aceh masa lalu serta buku sejarah karangan Wali Nanggroe tentang sejarah Aceh, akhirnya saya bulatkan tekad untuk berjuang agar Aceh bisa bangkit dari berbagai persoalan itu,” tandas Muzakir.
Sejak umur 19 tahun, Muzakir Manaf bergabung dan ikut dengan pasukan Gerakan Atjeh Merdeka (GAM). Sebelumnya perjuangan tesebut dilakukan oleh pejuang Aceh secara rahasia dengan nama “Atjeh Merdeka” (AM).
Masih sangat lekat dalam pikiran Muzakir bagaimana awal-awal ia bergabung dengan GAM. Hampir setiap hari dia mengikuti latihan fisik dan latihan meliter secara bergerilya. Meskipun saat itu belum banyak senjata.
Beberapa bulan bergabung di GAM, Muzakir terpilih untuk berangkat ke luar negeri meningkatkan kemampuan diri. 

Negara pertama adalah Malaysia. Tak lama di negeri jiran itu, dia bersama sejumlah pemuda Aceh lainnya berangkat ke Libya. 

Di negara gurun ini Muzakir dan rekan-rekannya ditempa latihan militer yang sangat berat, tegas, dan disiplin. 

Mereka juga mempelajari penggunaan berbagai jenis senjata termasuk latihan perang gerilya.
Setelah beberapa bulan latihan, entah bagaimana Muzakir dengan tak terbayangkan terpilih menjadi salah seorang pengawal Presiden Libya, Muammar Khadafi.

“Sekitar tiga tahun jadi pengawal Presiden Libya, saya diperintahkan oleh Wali Nanggroe (Tgk Muhammad Hasan Di Tiro) untuk pulang ke Aceh, melanjutkan perjuangan menuntut kemerdekaan untuk mensejahterakan rakyat,” ujarnya.
Sesampai kembali ke Aceh, Muzakir bersama 20-an rekannya yang sama-sama eks Libya mendapat tugas mengatur strategi dengan mengontrol semua pejuang lain yang telah ada di Aceh. 

Saat itu, Panglima GAM di Wilayah Pase adalah M Yusuf bin Tgk Muhammad Ali (Peutua/Geusyik Ali), Panglima Bintang sepak bola Klub “Persijam” (Persatuan Sepak Bola Jambo Aye) itu dikenal dengan sebutan M Yusof Ali.
Ketika militer Indonesia melakukan operasi mencari orang GAM, sejumlah eks Libya terpencar-pencar membentuk kelompok gerilya. Tempat tinggal pun berpindah-pindah. 

“Kami sering di Aceh utara, seperti di Desa Buket Bayah, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Reungkam di Kecamatan Matang Kuli, Kecamatan Sawang, Pante bahagia, Paya Bakong,” kenang Muzakir.
Gerilyawan GAM juga merambah Kabupaten Bireuen seperti di kawasan Kecamatan Makmur (Dusun Gajah Wiet Beusoe), dan Batee Iliek. Juga ke Pidie Jaya, Pidie, dan juga ke Aceh Timur. “Senjata hanya ada dua jenis yaitu Minimi yang paling disenangi dan M-16,” kata Mualem.
Menurut anak ketiga dari enam bersaudara dari pasangan Tgk Abdul Manaf/Zubaidah ini, semasa berjuang ia lebih sering berada di lingkungan penduduk, meskipun masyarakat tak tahu kalau dirinya ada di antara mereka. 

“Banyak sekali suka duka selama kami berjuang yang tidak mungkin diurai satu per satu. Insya Allah, Aceh ke depan akan lebih baik dan cita-cita saya mensejahterakan rakyat terkabul hendaknya” demikian Muzakir Manaf.| Serambi

Muallem Bercita-cita Ingin Sejahterakan Aneuk Nanggroe

JIKA Allah berkehendak mengangkat derajat seseorang tentu tak ada yang mampu menghalangi.

Itulah yang kini berlaku atas diri Muzakir Manaf, laki-laki Gampong Mane Kawan, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara. Muzakir yang akrab disapa Mualem akan mendapingi dr Zaini Abdullah sebagai Wagub Aceh.
Suatu malam, Minggu 8 April 2012 atau menjelang Pilkada 2012, Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem mengungkapkan, cita-cita ingin mensejahterakan aneuk Nanggroe (masyarakat) sudah terpatri sejak usianya masih belia. 

Padahal, Muzakir muda hanyalah seorang anak petani yang ekonominya pas-pasan, malah untuk uang jajan saja ketika ia masih sekolah di SMA Pase nyaris tak terpenuhi.
“Berangkat dari realita masyarakat Aceh yang melarat akibat kesulitan lapangan kerja, dan kemudian saya membaca sejarah perjuangan orang Aceh masa lalu serta buku sejarah karangan Wali Nanggroe tentang sejarah Aceh, akhirnya saya bulatkan tekad untuk berjuang agar Aceh bisa bangkit dari berbagai persoalan itu,” tandas Muzakir.
Sejak umur 19 tahun, Muzakir Manaf bergabung dan ikut dengan pasukan Gerakan Atjeh Merdeka (GAM). Sebelumnya perjuangan tesebut dilakukan oleh pejuang Aceh secara rahasia dengan nama “Atjeh Merdeka” (AM).
Masih sangat lekat dalam pikiran Muzakir bagaimana awal-awal ia bergabung dengan GAM. Hampir setiap hari dia mengikuti latihan fisik dan latihan meliter secara bergerilya. Meskipun saat itu belum banyak senjata.
Beberapa bulan bergabung di GAM, Muzakir terpilih untuk berangkat ke luar negeri meningkatkan kemampuan diri. 

Negara pertama adalah Malaysia. Tak lama di negeri jiran itu, dia bersama sejumlah pemuda Aceh lainnya berangkat ke Libya. 

Di negara gurun ini Muzakir dan rekan-rekannya ditempa latihan militer yang sangat berat, tegas, dan disiplin. 

Mereka juga mempelajari penggunaan berbagai jenis senjata termasuk latihan perang gerilya.
Setelah beberapa bulan latihan, entah bagaimana Muzakir dengan tak terbayangkan terpilih menjadi salah seorang pengawal Presiden Libya, Muammar Khadafi.

“Sekitar tiga tahun jadi pengawal Presiden Libya, saya diperintahkan oleh Wali Nanggroe (Tgk Muhammad Hasan Di Tiro) untuk pulang ke Aceh, melanjutkan perjuangan menuntut kemerdekaan untuk mensejahterakan rakyat,” ujarnya.
Sesampai kembali ke Aceh, Muzakir bersama 20-an rekannya yang sama-sama eks Libya mendapat tugas mengatur strategi dengan mengontrol semua pejuang lain yang telah ada di Aceh. 

Saat itu, Panglima GAM di Wilayah Pase adalah M Yusuf bin Tgk Muhammad Ali (Peutua/Geusyik Ali), Panglima Bintang sepak bola Klub “Persijam” (Persatuan Sepak Bola Jambo Aye) itu dikenal dengan sebutan M Yusof Ali.
Ketika militer Indonesia melakukan operasi mencari orang GAM, sejumlah eks Libya terpencar-pencar membentuk kelompok gerilya. Tempat tinggal pun berpindah-pindah. 

“Kami sering di Aceh utara, seperti di Desa Buket Bayah, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Reungkam di Kecamatan Matang Kuli, Kecamatan Sawang, Pante bahagia, Paya Bakong,” kenang Muzakir.
Gerilyawan GAM juga merambah Kabupaten Bireuen seperti di kawasan Kecamatan Makmur (Dusun Gajah Wiet Beusoe), dan Batee Iliek. Juga ke Pidie Jaya, Pidie, dan juga ke Aceh Timur. “Senjata hanya ada dua jenis yaitu Minimi yang paling disenangi dan M-16,” kata Mualem.
Menurut anak ketiga dari enam bersaudara dari pasangan Tgk Abdul Manaf/Zubaidah ini, semasa berjuang ia lebih sering berada di lingkungan penduduk, meskipun masyarakat tak tahu kalau dirinya ada di antara mereka. 

“Banyak sekali suka duka selama kami berjuang yang tidak mungkin diurai satu per satu. Insya Allah, Aceh ke depan akan lebih baik dan cita-cita saya mensejahterakan rakyat terkabul hendaknya” demikian Muzakir Manaf.| Serambi

Irwandi Berharap Pasangan Zikir Dapat Realisasi Bendera GAM Jadi Bendera Aceh, Burak-Singa Jadi simbol Aceh

Banda Aceh | acehtraffic.com- Irwandi Yusuf merupakan salah satu kandidat yang menjadi rival kuat pasangan Zaini–Muzakkir dalam penghelatan Pilkada Aceh 9 April lalu, menghadiri pelantikan gubernur terpilih di Gedung DPR Aceh, Senin 25 Juni 2012.

Irwandi Yusuf juga mantan Gubernur Aceh itu mengatakan akan mendukung pemerintahan Zaini Muzakkir, dan siap untuk membantu jika gubernur yang diusung  Partai Aceh itu meminta. 

Ia juga berharap gubernur baru dapat lebih baik dari gubernur sebelumnya. 

Irwandi juga berharap apa yang tidak bisa dilakukannya,  dapat dilakukan dimasa pemerintahn sekarang, misalnya Bendera GAM menjadi Bendera Aceh, lambang Burak Singa menjadi simbol Aceh, adanya Wali Nanggroe yang berwenang mengatur segala kepentingan dan perlindungan terhadap rakyat Aceh.

“Dua –dua lembaga sudah dikuasai, Eksekutif (Pemerintahan) Legislatif (DPRA) sudah dikuasai kapan lagi,” Ujar Irwandi. Dia juga menharapkan pemerintahan Zaini- Muzakkir agar dapat mengurangi jumlah masyarakat miskin di Aceh. 

Katanya hal itu sangat dimungkinkan karena Zaini Muzakkir memiliki program memberikan insentif  1 juta per kk untuk rakyat Aceh.

Harapannya, pasangan kyang diusung Partai aceh dapat mengembalikan kejayaan masa lalu seperti pernah terjadi dimasa lampau saat pemerintahan Sultan Iskandar Muda. | AT | RD | Serambi|

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Blogger Gadgets